Kenali Perbedaan Miom dan Kista

Perbedaan miom dan kista sering kali tidak dapat dikenali secara awam. Kedua penyakit ini bahkan cenderung tidak menimbulkan gejala-gejala tertentu di fase awal kemunculannya.

Sehingga butuh pemeriksaan intensif oleh dokter untuk mendeteksi adanya miom atau kista pada fase awal. Baik miom maupun kista biasanya baru menunjukkan gejala-gejala yang signifikan pada saat kondisi penyakit ini sudah lumayan serius dan butuh penanganan.

Dikarenakan sulit membedakan gejalanya di fase awal, orang awam seringkali menganggap miom dan kista merupakan kondisi yang sama. Padahal keduanya merupakan kondisi yang amat berbeda. Lalu apakah perbedaan miom dan kista?

Mari simak penjelasan lebih lanjut dalam artikel ini.

Pengertian Miom dan Kista

Miom dan kista merupakan dua jenis tumor jinak yang dapat menyerang organ reproduksi wanita. Kedua jenis tumor jinak ini merupakan dua kondisi yang berbeda. Salah satu perbedaan miom dan kista yang paling mendasar adalah dari bentuk dan letak pertumbuhannya.

Miom (myoma atau fibroid) merupakan jenis tumor jinak non kanker yang terbentuk pada otot dinding rahim. Sedangkan kista merupakan gelembung atau kantung yang berisi cairan yang dapat tumbuh organ manapun, termasuk organ reproduksi seperti ovarium atau indung telur. Kista ovarium sendiri dapat tumbuh di salah satu ovarium, kanan atau kiri, maupun tumbuh di keda ovarium wanita.

Gejala Miom dan Kista Ovarium

Baik miom ataupun kista ovarium sering kali tudak menimbulkan gejala tertentu di awal pertumbuhannya. Umumnya keberadaan miom maupun kista baru terdeteksi seletah dokter melakukan pemeriksaan.

Namun demikian, jika miom dan kista ovarium ini telah membesar ukurannya atau bisa dikatakan telah memburuk, maka keduanya akan menibulkan gejala-gejala yang dapat dirasakan. Berikut adalah perbedaan gejala miom dan kista:

Gejala pada Miom

Ukuran miom bisa hanya sebesar biji apel, namun juga bisa memburuk hingga ukurannya mencapai sebesar anggur. Beberapa gejala yang timbul akibat miom, antara lain:

  • Nyeri pada perut atau panggul
  • Perut kembung atau terasa bengkak/begah
  • Pendarahan mentruasi yang berlebihan, bahkan di beberapa kasus dapat enyebabkan anemia
  • Sering buang air kecil
  • Tekanan pada anus

Miom juga bisa bertumbuh besar bersamaan dengan masa kehamilan dan dapat mengecil saat setelah selesai masa kehamilan.

Gejala pada Kista Ovarium

Kista ovarium dapat memiliki ukuran yang berbeda-beda, namun umumnya ukuran kista pada ovarium berkisar antara setengah inci hingga 4 inci. Beberapa gejala yang dapat ditimbulkan oleh kista ovarium, antara lain:

  • Nyeri pada perut. Kadang bisa hanya terjadi pada satu sisi perut saja baik kanan maupun kiri.
  • Nyeri pada punggung bawah atau pada paha
  • Nyeri berlebihan saat menstruasi
  • Nyeri saat berhubungan seks
  • Perut kembung atau bengkak
  • Pendarahan pada vagina
  • Sering buang air kecil, atau justru kadang sulit buang air kecil
  • Masalah pada usus atau pencernaan
  • Kenaikan berat badan

Pada kondisi yang parah, kista dapat pecah dan menimbulkan masalah serius serta tanda-tanda seperti nyeri perut yang sangat parah, muntah, pusing, pendarahan, hingga kesulitan bernafas. Jika kondisi ini terjadi maka perlu penanganan emergensi dari dokter.

Penyebab Miom dan Kista Ovarium

Hingga saat ini penyebab utama munculnya miom dan kista ovarium belum dapat dipastikan. Namun keduanya dapat dipicu oleh beberapa hal yang terakumulasi, termasuk karena faktor genetik, hormon, dan gaya hidup.

Beberapa faktor penyebab munculnya miom antaranya adalah:

  • Faktor genetik atau punya riwayat keluarga yang juga memiliki miom
  • Gaya hidup atau diet yang banyak mengkonsumsi daging merah
  • Obesitas
  • Stress
  • Faktor hormon, terutama bagi wanita yang telah memasuki usia 40 tahun ke atas

Sedangkan beberapa faktor penyebab munculnya kisya ovarium antara lain:

  • Pengaruh kelainan hormon
  • PCOS atau sindrom ovarium polikistik
  • Endometriosis
  • Kehamilan
  • Infeksi panggul yang parah

Perawatan untuk Miom dan Kista Ovarium

Miom dan kista ovarium biasanya tidak membutuhkan perawatan secara khusus. Namun demikian, jika kondisinya makin parah misalnya jika ukurannya membesar atau mengganggu proses reproduksi dan menimbulkan gejala yang parah maka perlu dilakukan beberapa perawatan.

Perawatan yang dapat dilakukan dalam menangani miom dan kista ovarium antara lain:

  1. Melakukan pemeriksaan rutin, terutama dengan USG sebagai salah satu cara mendeteksi miom dan kista ovarium sejak dini. Pemeriksaan rutin ini juga berfungsi untuk memantau kondisi miom maupun kista ovarium. 
  2. Menggunakan kontrasepsi hormonal untuk membantu mengurai terjadinya pendarahan yang berlebihan. Penggunaan kontrasepsi hormonal juga dapat difungsikan sebagai salah satu upaya mencegah miom dan kista.
  3. Melakukan operasi mengangkatan kista.
  4. Melakukan operasi pengangkatan rahim. Hal ini bisa jadi opsi jika Anda sudah tidak berencana untuk memiliki anak lagi di masa depan.
  5. Ablasi endometrium.
  6. Embolisasi fibroid untuk memotong suplai darah pada miom rahim.
  7. Melakukan operasi pengangkatan jaringan kista jika ukuran kista ovarium masih relatif kecil dan aman untuk dilakukan operasi.
  8. Melakukan operasi pengangkatan ovarium. Hal ini jadi opsi terakhir yang dilakukan jika kista ovarium makin parah.

Demikian penjabaran mengenai perbedaan miom dan kista ovarium. Kedua penyakit ini merupakan penyakit yang bisa muncul kapan saja dan terkadang tanpa menimbulkan gejala awal. Oleh sebab itu kita hendaknya mulai membiasakan gaya hidup sehat serta rutin melakukan pemeriksaan jika memungkinkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.