Kegunaan dan Tips Memilih Kapas Pembalut

Kapas pembalut tentunya bukanlah hal yang asing bagi kita. Sebagian besar dari kita, utamanya perempuan, terbiasa menggunakan kapas pembalut ketika sedang menstruasi untuk mencegah kebocoran darah mens.

Kapas pembalut juga sering dimanfaat di dunia medis, seperti kapas pembalut luka yang dapat membantu menghentikan pendarahan. Selain itu, kapas uga kerap digunakan sebagai alat dalam mengaplikasikan produk pembersih wajah dan juga toner dalam rangkaian skincare routine sehari-hari.

Apa Itu Kapas Pembalut Dan Fungsinya?

Kapas pembalut merupakan bantalan kapas yang terbuat dari serat kapas. Bahan kapas pembalut terdiri dari beberapa jenis seperti cotton, fleece, bamboo, polyester, flannel, terry, dan microfiber. Setiap bahan ini tentunya menghasilkan jenis dan kualitas yang berbeda-beda dan menyesuaikan dengan fungsi kapas pembalut itu sendiri.

Kegunaan kapas pebalut yang paling umum adalah sebagai pembalut pada saat mentruasi. Biasanya kapas pembalut menstruasi ini terbuat dari bahan cotton atau katun. Bahan katun ini dinilai yang paling sesuai digunakan sebagai kapas pembalut menstruasi karena cukup lembut dan tidak mengiritasi area kewanitaan yang sensitif. 

Penggunaan kapas pembalut berbahan cotton pad untuk pembalut menstruasi ini juga dinilai dapat membantu mengurangi risiko seorang wanita mengalami toxic shock syndrome (TSS), yakni suatu sindrom yang memicu haid berlangsung lebih lama serta gejala PMS yang lebih parah.

TSS ini sendiri disinyalir disebabkan oleh penggunaan pembalut atau tampon berbahan selain katun yang memiliki daya serap super sehingga justru bereaksi dengan tubuh saat menstruasi.

Selain itu, kegunaan kapas pembalut yang lain adalah dalam bidang medis, yakni sebagai pembalut luka jika terjadi pendarahan atau untuk menyeka luka ringan misalnya luka bekas suntik.

Bantalan kapas pembalut juga digunakan sehari-hari dalam proses pengaplikasian skincare routine, yakni dalam pengaplikasian pembersih wajah baik itu berupa milk cleanser, micellar water, dan juga dalam mengaplikasikan toner pada wajah.

Beberapa kapas pembersih dalam kecantikan juga dibuat dengan teknologi dua sisi yang berbeda yakni sisi lembut dan sedikit bertekstur. Hal ini tentunya menjadikan kapas juga berfungsi sebagai alat eksfoliasi wajah.

Tips Memilih Kapas Pembalut

Nah, setelah membaca penjelasan mengenai apa itu kapas pembalut beserta fungsinya, selanjutnya kita akan membahas mengenai tips memilih kapas pembalut.

Tips memilih kapas pembalut tentunya harus disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Kamu bisa memilih kapas pembalut yang lembut dan berbahan katun untuk digunakan sebagai kapas pembersih wajah, atau juga bisa memilih kapas yang memiliki tekstur permukaan berserat yang dapat membatu proses eksfoliasi kulit.

Di samping itu, ada juga tips memilih kapas pembalut untuk menstruasi yang sesuai untuk Kamu. Berikut adalah beberapa hal yang harus Kamu perhatikan ketika memilih kapas pembalut mestruasi:

  • Daya serap

Setiap perempuan memiliki spesifikasi mentruasi yang berbeda-beda. Ada yang aliran darah menstruasinya deras dan banyak, ada juga yang alirannya biasa saja, bahkan cenderung sedikit. Perbedaan ini tentunya menjadikan setiap dari Kamu memiliki kebutuhan kapas pembalut dengan daya serap yang berbeda-beda pula.

Perempuan dengan menstruasi yang deras dan banyak tentunya butuh pembalut dengan daya serap yang ekstra agar tidak mudah bocor. Sedangkan perempuan dengan mentruasi yang biasa saja atau sedikit mungkin hanya butuh pembalu dengan daya serap sedang. Maka selalu sesuaikan pilihan kapas pembalutmu dengan kondisi dan kebutuhanmu. 

  • Ukuran kapas pembalut

Selain daya serap, ukuran kapas pembalut juga perlu diperhatikan. Jika menstruasimu deras dan lancar, menggunakan pembalut yang panjang tentunya akan lebih nyaman serta mengurangi risiko bocor. Namun jika menstruasimu sedang saja, menggunakan pembalut ukuran biasa pun terasa sudah cukup.

Sebagian perempuan juga senang menggunakan pembalut berukuran panjang saat malam hari karena untuk mengantisipasi pergeseran dan kebocoran akibat gerakan yang dilakukan ketika tidur.

  • Bahan kapas pembalut

Kapas pembalut terbuat dari bahan yang berbeda-beda. Kamu hendaknya juga harus memperhatikan bahan kapas pembalutmu karena bisa saja kulitmu bereaksi terhadap bahan kapas pembalut tertentu.

Sejauh ini, kapas pembalut berbahan katun adalah yang paling aman karena cenderung tidak mengiritasi kulit.

  • Aktivitas harian kamu

Dalam memilih kapas pembalut untuk menstruasi, aktivitas harian Kamu juga harus jadi pertimbangan. Pilihlah kapas pembalut yang dapat menunjang aktivitas harianmu dan memberi kenyamanan saat kamu aktif berkegiatan sehar-hari.

Demikian penjelasan mengenai kegunaan dan tips memilih kapas pembalut yang paling sesuai untuk kebutuhan kamu. Semoga bermanfaat.

Kenali Perbedaan Miom dan Kista

Perbedaan miom dan kista sering kali tidak dapat dikenali secara awam. Kedua penyakit ini bahkan cenderung tidak menimbulkan gejala-gejala tertentu di fase awal kemunculannya.

Sehingga butuh pemeriksaan intensif oleh dokter untuk mendeteksi adanya miom atau kista pada fase awal. Baik miom maupun kista biasanya baru menunjukkan gejala-gejala yang signifikan pada saat kondisi penyakit ini sudah lumayan serius dan butuh penanganan.

Dikarenakan sulit membedakan gejalanya di fase awal, orang awam seringkali menganggap miom dan kista merupakan kondisi yang sama. Padahal keduanya merupakan kondisi yang amat berbeda. Lalu apakah perbedaan miom dan kista?

Mari simak penjelasan lebih lanjut dalam artikel ini.

Pengertian Miom dan Kista

Miom dan kista merupakan dua jenis tumor jinak yang dapat menyerang organ reproduksi wanita. Kedua jenis tumor jinak ini merupakan dua kondisi yang berbeda. Salah satu perbedaan miom dan kista yang paling mendasar adalah dari bentuk dan letak pertumbuhannya.

Miom (myoma atau fibroid) merupakan jenis tumor jinak non kanker yang terbentuk pada otot dinding rahim. Sedangkan kista merupakan gelembung atau kantung yang berisi cairan yang dapat tumbuh organ manapun, termasuk organ reproduksi seperti ovarium atau indung telur. Kista ovarium sendiri dapat tumbuh di salah satu ovarium, kanan atau kiri, maupun tumbuh di keda ovarium wanita.

Gejala Miom dan Kista Ovarium

Baik miom ataupun kista ovarium sering kali tudak menimbulkan gejala tertentu di awal pertumbuhannya. Umumnya keberadaan miom maupun kista baru terdeteksi seletah dokter melakukan pemeriksaan.

Namun demikian, jika miom dan kista ovarium ini telah membesar ukurannya atau bisa dikatakan telah memburuk, maka keduanya akan menibulkan gejala-gejala yang dapat dirasakan. Berikut adalah perbedaan gejala miom dan kista:

Gejala pada Miom

Ukuran miom bisa hanya sebesar biji apel, namun juga bisa memburuk hingga ukurannya mencapai sebesar anggur. Beberapa gejala yang timbul akibat miom, antara lain:

  • Nyeri pada perut atau panggul
  • Perut kembung atau terasa bengkak/begah
  • Pendarahan mentruasi yang berlebihan, bahkan di beberapa kasus dapat enyebabkan anemia
  • Sering buang air kecil
  • Tekanan pada anus

Miom juga bisa bertumbuh besar bersamaan dengan masa kehamilan dan dapat mengecil saat setelah selesai masa kehamilan.

Gejala pada Kista Ovarium

Kista ovarium dapat memiliki ukuran yang berbeda-beda, namun umumnya ukuran kista pada ovarium berkisar antara setengah inci hingga 4 inci. Beberapa gejala yang dapat ditimbulkan oleh kista ovarium, antara lain:

  • Nyeri pada perut. Kadang bisa hanya terjadi pada satu sisi perut saja baik kanan maupun kiri.
  • Nyeri pada punggung bawah atau pada paha
  • Nyeri berlebihan saat menstruasi
  • Nyeri saat berhubungan seks
  • Perut kembung atau bengkak
  • Pendarahan pada vagina
  • Sering buang air kecil, atau justru kadang sulit buang air kecil
  • Masalah pada usus atau pencernaan
  • Kenaikan berat badan

Pada kondisi yang parah, kista dapat pecah dan menimbulkan masalah serius serta tanda-tanda seperti nyeri perut yang sangat parah, muntah, pusing, pendarahan, hingga kesulitan bernafas. Jika kondisi ini terjadi maka perlu penanganan emergensi dari dokter.

Penyebab Miom dan Kista Ovarium

Hingga saat ini penyebab utama munculnya miom dan kista ovarium belum dapat dipastikan. Namun keduanya dapat dipicu oleh beberapa hal yang terakumulasi, termasuk karena faktor genetik, hormon, dan gaya hidup.

Beberapa faktor penyebab munculnya miom antaranya adalah:

  • Faktor genetik atau punya riwayat keluarga yang juga memiliki miom
  • Gaya hidup atau diet yang banyak mengkonsumsi daging merah
  • Obesitas
  • Stress
  • Faktor hormon, terutama bagi wanita yang telah memasuki usia 40 tahun ke atas

Sedangkan beberapa faktor penyebab munculnya kisya ovarium antara lain:

  • Pengaruh kelainan hormon
  • PCOS atau sindrom ovarium polikistik
  • Endometriosis
  • Kehamilan
  • Infeksi panggul yang parah

Perawatan untuk Miom dan Kista Ovarium

Miom dan kista ovarium biasanya tidak membutuhkan perawatan secara khusus. Namun demikian, jika kondisinya makin parah misalnya jika ukurannya membesar atau mengganggu proses reproduksi dan menimbulkan gejala yang parah maka perlu dilakukan beberapa perawatan.

Perawatan yang dapat dilakukan dalam menangani miom dan kista ovarium antara lain:

  1. Melakukan pemeriksaan rutin, terutama dengan USG sebagai salah satu cara mendeteksi miom dan kista ovarium sejak dini. Pemeriksaan rutin ini juga berfungsi untuk memantau kondisi miom maupun kista ovarium. 
  2. Menggunakan kontrasepsi hormonal untuk membantu mengurai terjadinya pendarahan yang berlebihan. Penggunaan kontrasepsi hormonal juga dapat difungsikan sebagai salah satu upaya mencegah miom dan kista.
  3. Melakukan operasi mengangkatan kista.
  4. Melakukan operasi pengangkatan rahim. Hal ini bisa jadi opsi jika Anda sudah tidak berencana untuk memiliki anak lagi di masa depan.
  5. Ablasi endometrium.
  6. Embolisasi fibroid untuk memotong suplai darah pada miom rahim.
  7. Melakukan operasi pengangkatan jaringan kista jika ukuran kista ovarium masih relatif kecil dan aman untuk dilakukan operasi.
  8. Melakukan operasi pengangkatan ovarium. Hal ini jadi opsi terakhir yang dilakukan jika kista ovarium makin parah.

Demikian penjabaran mengenai perbedaan miom dan kista ovarium. Kedua penyakit ini merupakan penyakit yang bisa muncul kapan saja dan terkadang tanpa menimbulkan gejala awal. Oleh sebab itu kita hendaknya mulai membiasakan gaya hidup sehat serta rutin melakukan pemeriksaan jika memungkinkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Fibroid Rahim: Jenis,Cara Deteksi, dan Pengobatannya

Rahim atau uterus merupakan organ penting bagi wanita karena menjadi tempat untuk pertumbuhan janin saat masa kehamilan. Seperti organ lainnya, rahim seorang wanita bisa mengalami berbagai masalah yang menganggu, salah satunya fibroid rahim.

Fibroid adalah gumpalan daging yang terbentuk disekitar rahim dan memiliki sifat non-kanker. Fibroid rahim umumnya dialami oleh wanita pada rentang umur 30-50 tahun dengan ukuran yang beragam. Simak penjelasan berikut untuk mengetahui lebih dalam hal-hal seputar gangguan ini.

Jenis Fibroid Rahim

Ada beberapa jenis fibroid rahim, yaitu:

  1. Intramural Fibroid 

Jenis ini merupakan yang paling umum. Benjolan atau daging akan terbentuk pada didin otot rahim

  1. Subserosal Fibroid

Fibroid jenis ini umumnya tumbuh di luar dinding rahim hingga ke pelvis dan dapat tumbuh hingga ukuran yang cukup besar.

  1. Submucosal Fibroid

Fibroid jenis ini berkembang di lapisan otot bawah pada bagian dalam rahim dan bisa terus tumbuh hingga rongga rahim.

  1. Pedunculated Fibroid (Fibroid Bertangkai)

Jenis ini sangat langka alias jarang terjadi. Fibroid tumbuh di luar uterus dengan batang yang sangat kecil hingga terlihat seperti jamur.

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena fibroid rahim, yaitu obesitas, riwayat keluarga, tidak memiliki anak, menstruasi dini (menstruasi di usia muda), dan terlambat mengalami menopause. 

Macam-macam Deteksi Fibroid Rahim

Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi fibrosis rahim, yaitu:

  1. Ultrasonografi (USG)

Layaknya deteksi berbagai hal di dalam tubuh, diagnosa fibroid rahim juga bisa dilakukan dengan USG. Ada dua jenis metode USG, yaitu transabdominal (deteksi dengan mengarahkan mesin USG atau transducer ke daerah perut) dan transvaginal (deteksi dengan menaruh mesin USG di dalam vagina agar bisa menyorot bagian uterus).

  1. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan cara lain untuk mendeteksi keberadaan fibroid rahim karena bisa menampilkan ukuran dan posisi secara lebih detail. MRI umumnya digunakan untuk deteksi pada wanita dengan ukuran rahim yang lebih besar atau yang sedang mendekati masa menopause (perimenopause).

  1. CT Scan

CT (Computed tomography) scan adalah metode deteksi yang menggunakan sinar X untuk memunculkan gambaran uterus sehingga letak dan ukuran fibroid bisa diketahui.

  1. Histerosonografi    

Histosonografi merupakan metode deteksi fibroid dengan bantuan alat bernama saline infusion sonogram. Alat ini bisa mendapat gambaran letak dan ukuran fibroid dengan menggunakan air garam steril untuk melebarkan rongga rahim.

  1. Hysteroscopy

Hysteroscopy adalah deteksi dengan menggunakan alat semacam teropong dengan ujung yang memiliki kamera. Alat seperti teropong ini nantinya akan melewati vagina dan leher rahim hingga akhirnya bisa mendeteksi letak dan ukuran fibroid.

  1. Hysterosalpingography (HSG)

Hysterosalpingography adalah metode deteksi dengan menggunakan pewarna untuk memperjelas bagian rongga rahim dan tuba falopii dengan bantuan warna yang kemudian disorot dengan sinar X. Metode deteksi ini berguna untuk melihat apakah tuba falopii terbuka atau tertutup oleh fibroid.

  1. Sonohysterography

Metode deteksi ini dilakukan dengan memasukkan kateter secara melalui vagina lalu menyuntikkan air garam steril ke lubang rahim untuk mendapatkan gambaran letak dan ukuran fibroid. Metode deteksi ini dinilai lebih baik dari USG karena memberikan gambaran yang lebih jelas.

Pengobatan Fibroid

Ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi fibroid rahim, yaitu:

  1. Menggunakan obat-obatan yang dapat mengurangi rasa nyeri akibat keberadaan fibroid seperti asetminofen dan ibuprofen.
  2. Konsumsi suplemen yang mengandung zat besi sebagai pengganti saat pendarahan.
  3. Terapi oral dengan menggunakan elogolix untuk mengatasi pendarahan akibat adanya fibroid pada wanita saat mendekati masa menopause. Terapi ini bisa berlangsung hingga 24 bulan lamanya.
  4. Mencegah kehamilan agar bisa mengatasi pendarahan dan asa nyeri akibat adanya fibroid.

Itulah penjelasan seputar fibroid rahim mulai jenis, cara deteksi, hingga beberapa cara pengobatannya.